Buku sebagai Bukti, Demokrasi sebagai Tersangka: Sebuah Ironi Semangat Mencerdaskan Bangsa, Tapi Membelenggu Pikiran
Di setiap sudut negeri ini, sebuah janji agung, sebuah sumpah luhur, terus digaungkan. Dalam pidato kenegaraan, di mimbar-mimbar pendidikan, hingga ukiran konstitusi, kata-kata itu menggema penuh otoritas, “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Ia bukanlah sekadar frasa manis, melainkan sebuah amanat mendasar, kompas moral yang seharusnya memandu setiap kebijakan dan tindakan negara.
Cita-cita luhur ini menuntut pemerintah, sebagai pengemban amanah, untuk membuka seluas-luasnya gerbang pengetahuan, mendorong dialektika, dan melindungi kebebasan berpikir. Namun, di tengah gema janji itu, ironi yang menyayat hati justru terjadii, tangan-tangan yang seharusnya mengayomi dan melindungi gerbang ilmu pengetahuan justru sibuk merampas dan menyita buku.
Buku, dalam sejarah peradaban manusia, adalah lebih dari sekadar tumpukan kertas. Ia adalah jantung peradaban, gudang ingatan kolektif, jembatan waktu yang menghubungkan kita dengan pikiran-pikiran besar dari masa lampau, dan jendela menuju cakrawala pengetahuan yang tak terbatas. Di dalamnya terkandung benih-benih gagasan yang mengguncang dogma, narasi-narasi yang menginspirasi perubahan sosial, dan pengetahuan mendalam yang membuka cakrawala intelektual.
Baca analisis lengkapnya di: https://retizen.republika.co.id/posts/710094/buku-sebagai-bukti-demokrasi-sebagai-tersangka-sebuah-ironi-semangat-mencerdaskan-bangsa-tapi-membelenggu-pikiran