Membaca Indonesia Kita: Nasionalisme Topeng dan Janji Keadilan yang Tertunda
“INDONESIA adalah satu bangsa di mana ratap tangis satu golongan menjadi tertawaan golongan lain; di mana orang-orang yang dianggap pahlawan oleh satu golongan dianggap pengkhianat oleh golongan lain; di mana kekejaman terhadap satu golongan dianggap keadilan oleh golongan lain; di mana ‘solidaritas nasional’ hanya ada dibibir dan di poster-poster saja. Nyatalah di alam kenyataan kesadaran kebangsaan Indonesia yang sesungguhnya tidak ada, dan yang disebut “nasionalisme Indonesia” itu hanya suatu nasionalisme suatu golongan terbesar yang mempertopengkan nama “nasionalisme Indonesia” untuk membenarkan dan mengesahkan kekuasaannya.” (Demokrasi Untuk Indonesia, Hasan Muhammad Tiro, Teplok Press, 1999)
Risalah ini ditulis oleh Dr. Teungku Hasan Muhammad di Tiro atau lebih populer Hasan Tiro yang terbit pertama kali pada tahun 1958. Risalah yang diberi judul ‘Demokrasi Untuk Indonesia’ ini dibuka dengan memaparkan persoalan yang sedang di hadapi oleh Indonesia pada saat itu, mulai munculnya banyak pemberontakan di beberapa daerah oleh kelompok-kelompok masyarakat yang merasa tidak puas dengan pemerintahan pusat di Jakarta, seperti pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) pada November 1950, DI/TII Kartosoewiryo di Jawa Barat, DI/TII Daud Bereuh di Aceh pada 1949-1962, dan Kahar Muzakkar di Sulawesi serta PRRI-Permesta di Sumatera dan Sulawesi.
Rangkaian peristiwa yang terjadi di masa pemerintahan Soekarno itu meskipun berhasil ditumpas tapi begitu banyak menyisakan luka yang cukup mendalam terhadap bangsa yang baru terbebas dari penjajahan. Lantas, bagaimana dengan hari ini?
Baca analisis lengkapnya di: https://retizen.republika.co.id/posts/717729/membaca-indonesia-kita-nasionalisme-topeng-dan-janji-keadilan-yang-tertunda